Malam itu saya duduk di teras rumah Pak Slamet, seorang tetangga di kampung saya. Di depannya ada secangkir kopi yang sudah dingin. Ia baru saja menerima video call dari anaknya yang kerja di Jakarta. Di layar ponsel, cucunya yang berumur lima tahun cuma diam, malu-malu, lalu lari ke belakang. Pak Slamet cuma tersenyum kecut. "Wis biasa, Mas. Kadang aku yo pingin nangis," katanya pelan.
Pemandangan seperti ini bukan hal aneh di kampung kita. Banyak orang tua muda memilih merantau ke kota buat cari penghasilan. Anak-anak mereka dititipkan ke nenek atau kakek di desa. Kadang setahun cuma pulang sekali, pas lebaran atau musim panen. Kita semua tahu itu dilakukan demi masa depan. Tapi tetap saja, ada harga yang harus dibayar.
Kenapa Banyak Anak Diasuh Nenek di Desa
Kalau kamu tinggal di kota kecil atau desa, kamu pasti tahu cerita ini. Sawah yang makin sempit, kerjaan di kampung yang serba pas-pasan, dan godaan upah minimum di kota. Banyak pasangan akhirnya memutuskan: bapak dan ibu kerja di perantauan, anak dititipkan ke orang tua.
Alasannya sederhana. Nenek dan kakek sudah berpengalaman ngurus anak. Mereka juga sayang sama cucu. Biaya hidup di desa lebih murah. Jadi uang kiriman dari kota bisa lebih banyak ditabung buat sekolah anak nanti.
Masalahnya, pengasuhan bukan cuma soal makan, mandi, dan sekolah. Ada hal lain yang lebih halus tapi penting: kedekatan emosi. Anak butuh sosok yang bisa dia peluk tiap hari, yang bisa dia ceritain kalau ada masalah kecil di sekolah. Kalau yang ada cuma nenek, ya nggak salah. Tapi anak tetap butuh suara orang tuanya, bukan cuma suara di ponsel.
Yang Sering Terjadi pada Anak dan Orang Tua
Saya pernah ngobrol sama Bu Rina, guru SD di kampung sebelah. Katanya, anak-anak yang diasuh nenek biasanya lebih mandiri. Mereka bisa masak sendiri, jaga adik, ngurus ternak. Itu sisi baiknya.
Tapi ada juga yang jadi pendiam. Kalau ditanya soal orang tua, mereka cuma diam. Ada yang bilang "bapak ibu nggak pernah telpon" sambil nunduk. Bu Rina bilang, anak-anak ini sering kangen tapi nggak tahu cara ngomongnya.
Dari sisi orang tua juga nggak gampang. Mereka kerja keras di kota, kadang lembur, kadang nggak sempat video call. Rasa bersalah itu ada. Banyak yang bilang, "Aku kerja ini semua buat anak." Itu benar. Tapi anak kecil belum ngerti logika itu. Yang dia tahu, bapak ibunya nggak ada di rumah.
Anak bukan cuma butuh uang kiriman. Dia butuh tahu kalau dia masih punya orang tua yang mikirin dia.
Cara Menjaga Hubungan Tetap Dekat Meski Jauh
Kabar baiknya, jarak bukan berarti hubungan harus renggang. Ada beberapa hal praktis yang bisa kamu lakukan, entah kamu orang tua yang merantau atau nenek yang ngasuh cucu.
1. Bikin ritual kecil yang konsisten
Nggak perlu video call lama-lama. Cukup 10 menit tiap malam, jam yang sama. Tanya hal spesifik: "Tadi makan apa?", "Di sekolah main sama siapa?". Anak bakal nunggu-nunggu momen itu. Konsistensi lebih penting daripada durasi.
2. Kirim sesuatu yang bisa dipegang
Anak kecil butuh benda fisik. Kirim surat tulisan tangan, foto yang dicetak, atau kaos yang kamu pakai dulu. Nenek bisa bantu bacakan suratnya tiap malam. Anak jadi punya "bukti" kalau orang tuanya masih ada, bukan cuma suara di layar.
3. Libatkan nenek, jangan cuma nitip
Nenek bukan cuma pengasuh. Dia bagian dari keluarga. Tanya pendapatnya soal anak, dengerin ceritanya, kirim uang lebih buat kebutuhan pribadinya juga. Kalau nenek merasa dihargai, dia bakal lebih sabar dan sayang ke cucu. Hubungan antar generasi jadi lebih hangat.
4. Siapkan waktu pulang yang benar-benar berkualitas
Kalau pulang kampung, jangan habiskan waktu buat rebahan atau main HP. Ajak anak ke sawah, mandi di sungai, masak bareng. Hal-hal sederhana ini yang diingat anak sampai besar. Bukan mainan mahal.
Yang Perlu Diingat oleh Kita Semua
Saya bukan mau bilang merantau itu salah. Banyak keluarga di kampung saya bisa beli motor, bangun rumah, dan sekolahkan anak sampai kuliah karena kerja di kota. Itu pengorbanan yang luar biasa.
Tapi saya juga lihat sendiri, ada anak yang sampai SMP masih malu manggil "ibu" ke orang tuanya sendiri. Itu menyakitkan buat semua pihak. Jadi kalau kamu sedang di posisi ini, jangan tunggu sampai anak besar baru mau dekat. Mulai dari sekarang, dari hal kecil.
Kalau kamu nenek atau kakek yang ngasuh cucu, kamu juga hebat. Kamu bukan cuma jaga anak, kamu jaga masa depan keluarga. Jangan ragu bilang ke cucu, "Bapak ibumu sayang kamu, mereka kerja buat kamu." Kalimat sederhana itu bisa nempel di hati anak bertahun-tahun.
Dan buat kamu yang masih di kampung, mungkin tetangga atau saudara yang anaknya diasuh nenek, jangan cuma nonton. Sesekali ajak anak itu main, tanya kabar, atau bantu neneknya. Kampung kita kuat karena kita saling jaga. Anak-anak yang tumbuh di tengah orang yang peduli bakal jadi orang dewasa yang lebih baik.
Pada akhirnya, keluarga bukan soal siapa yang ada tiap hari di rumah. Keluarga soal siapa yang tetap memilih hadir, meski jauh, meski susah, meski cuma lewat suara di ponsel jam sembilan malam.